Asaku adalah Asamu

ASAKU ADALAH ASAMU 

oleh 
Nurma Mentari Amanati (Etoser 2017)
K

erikil di senja sore itu, seolah berteriak mengabarkan sebuah duka saat kaki melangkah menuju tebing setinggi 1 meter di belang rumah. Langit gelap bersayat darah seolah menjadi background sendu dalam hati yang tengah pilu. Jeritan bambu yang saling bersaing memadu harap untuk menjadi soundtrack lamunan ku kala itu. Entah apa yang sedang aku fikirkan, hanya rasa cemas berselimut getir membasahi cermin yang ku pegang untuk sekedar melihat mimik wajah yang makin tak terlihat seperti aku.
            Keresahan ini tentang aku yang tidak siap berbagi cerita, walau hanya pengalaman bagaimana aku bisa hidup ditengah kota besar yang aku singgahi saat ini. Berat hati untuk menentukan harus dari mana aku memulai sebuah khayalan ku.  Sebenarnya bukan itu yang membuat fikiran ku kalut tak menentu, ini tentang sebuah asa..asa dari mereka yang tak ada daya.
            Nama ku Mentari, yaa..tentu nama yang tidak asing bagi setiap orang yang hidup dijaman yang serba instant ini. Tak sedikit orang yang menganggap namaku asing, macam kartu perdana yang pernah hits di masanya. Ah..tapi ini bukan tentang namaku, tapi tentang mereka yang memiliki harapan besar untuk menjadi bersinar seperti namaku..yaa…tentu seperti nama ku, bukan seperti aku. Aku adalah mahasiswi dari jurusan kesehatan yang saat liburan semester ini merasa menjadi satu-satunya orang yang penuh dosa. Kesempatan itu hilang di sambar waktu yang kian cepat berputar namun aku masih berfikir. Tak jauh berbeda dengan liburan semester biasanya, tugas ku sebagai seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa tentunya melaksanakan sosialisasi..no, lebih tepatnya sering kali aku hanya bercerita. Tetapi berbeda di tahun ini, ada sesuatu yang membuatku termenung, menatap mata yang penuh dengan harap..aku tidak pernah lupa, dengan mata yang menatapku saat itu.
            Jelas di ingatan ku 18 Januari 2019, menjadi notif yang harus aku kenang dalam hidupku, kala itu aku dipercaya menjadi salah satu narasumber dalam sebuah event besar yang di ikuti oleh siswa siswi di salah satu sekolah dikampungku. Kala itu aku menyampaikan banyak hal tentang motivasi kuliah, pengalaman ku saat kuliah, informasi beasiswa dan cerita inspiratif yang aku lihat dari orang-orang di sekelilingku. Saat itu aku banyak bercerita tentang beasiswa etos, ku katakan pada mereka ini adalah bagian dari program etos untuk road to school. Tentu ternganga-nganga.. bertanya-tanya kenapa harus kuliah, kenapa harus beasiswa. Tentu bukan waktu yang sebentar, 2 jam itu sangat lama untuk aku berbagi cerita bersama mereka tentang motivasi kuliah dengan beasiswa. Namun..kala itu rasanya berbeda ada hal yang membuatku sangat bersemangat untuk mengajak mereka sedikit berkhayal tentang dunia perkuliahan, tak sedikit juga yang sampai terjerit-jerit karena seolah kita melayang membayangkan bersama betapa indahnya masa kuliah itu.
            Hal lain, satu dari tatapan mereka membuatku hilang fokus dan hanya ingin melihat matanya. Gadis berkerudung coklat yang duduk di tengah barisan siswa siswi yang memiliki mimpi besar itu. Hanya ia yang tak mengacungkan tangan saat aku mananyakan siapa yang ingin kuliah. Terkejut dan bertanya-tanya aku dibuatnya. Ku samarkan namanya Dewi. Saat ku tanyakan lebih lanjut, ia hanya tersenyum..tapi sungguh mata nya tidak bisa berbohong saat ku tampilkan beberapa foto bangunan besar tempat aku kuliah saat ini. Matanya penuh harap.
            2 jam berlalu, dan aku hanya fokus pada Dewi yang membuat aku makin penasaran untuk mendekatinya. Suara murotal dari masjid samping sekolah itu memanggil siswa laki-laki untuk bergegas mendiirikan sholat jumat, dan aku diberi kesempatan untuk melaksanakan sharing sederhana dengan siswi-siswi yang menunggu sholat jumat selesai. Tidak semua, hanya yang mau saja.. kembali aku terkejut dengan kedatangan Dewi yang tersenyum sambil menarik ulur jarinya, entah malu takut atau rasa apa yang membuatnya gugup menghampiriku. Aku mencoba lebih akrab dan membuatnya nyaman saat itu, dan kita terlena dalam candaan yang membuat kita seperti teman lama. Sampai pada akhirnya aku menanyakan padanya alasan emngapa ia tidak tertarik dengan dunia perkuliahan. Jawabnya sangat singkat, “kuliah itu pakai ridho kan kak, sedangkan aku tidak mengantonginya”. Otak ku hanya berputar dengan keras untuk menangkap jawaban dari Dewi. Dia tersenyum dan menjelaskan lebih panjang, bahwa ia adalah anak pertama dari entah berapa bersaudara  aku lupa. Yang pasti maksud nya adalah ia menjadi tulang punggung dalam keluarganya setelah pengumuman kelulusan nanti. Dia hanya tinggal bersama ibu dan beberapa adiknya, katanya ayahnya entah pergi kemana. Singkat cerita ia mengakhiri percakapan kita dengan kalimat kuliah itu butuh ridho mbak, sedangkan ibu ku tidak memberikannya, ibu hanya mengajarkan ku bagaimana berprestasi disekolah kemudian lulus dengan nilai di ijazah yang baik, harapnya walaupun sebagai buruh aku tidak menjadi buruh yang mengangkat barang-barang berat, cukup menjadi buruh dipabrik dengan nilai yang baik saja itu sangat menyenangkan kata ibuku.
            Terpukul aku dengan ceritanya yang tidak jauh berbeda dengan kisah keluargaku, bedanya aku jauh lebih beruntung dari pada Dewi. Ibu ku memberi ridho pada setiap jalan yang ku pilih sedangkan tidak dengan ibu Dewi. Ini yang membuat pengalaman Etos Road To School yang aku lakukan berbeda dengan yang sebelumnya. Aku mendapatkan cerita lain, kalau biasanya siswa sulit kuliah karena biaya, Dewi ini  sulit kuliah karena tak ada ridho dari orang tua. Masalah biaya sebenarnya menjadi salah satu hal yang membuat keluarganya akan berfikir beribu-ribu kali, namun tidak ada hal yang perlu ditakutkan sebenarnya, aku melihat prestasi Dewi sangat banyak, beberapa perlombaan yang ia ikuti dapat ditaklukannya dengan trophy juara 1 yang ditata rapi sebagai arsip sekolah. Namun katanya bukan masalah biaya..tidak akan rumit baginya untuk berusaha mencari beasiswa agar ia dapat kuliah, melainkan ridho dari seorang ibu.
            Mimpi Dewi sangat besar, ingin menjadi seorang dokter katanya..belum selesai aku mencoba mencari tahu tentang dia lebih dalam, dia harus segera bergegas mengambil air wudhu untuk sholat dhuhur dan melanjutkan kelas bahasa inggrisnya.
            Ini yang membuat lamunanku tak behenti juga di sore itu, memikirkan bagaimana aku  harus merespon cerita yang tidak pernah aku alami ini. Tidak mudah juga untuk meyakinkan ibunya, karena tidak sedikit masyarakat di kampung yang berfikir sama seperti ibunya. Apalagi ditambah kalimat “kuliah tinggi-tinggi nanti juga balek ke dapur”. Sebenarnya aku adalah salah satu dari berjuta-juta orang yang tidak setuju dengan statement ini. Sampai pada akhirnya aku mencari nomornya dari beberapa kenalan ku saat itu, hingga akhirnya aku dapat dan mencoba untuk menghubunginya. Tak lama setelah aku memulai percakapan singkat melalui aplikasi chat diponselku dia menjawab dan betapa girangnya dia masih mengingatku. Aku mencoba banyak bercerita tentang orang-orang yang jalannya berliku untuk meraih cita-cita, dan ia tak menjawab pesan singkatku pada chat terakhir yang aku kirim.
Bahwa berusaha memberikan pengertian kepada orang tua bukan merupakan dosa besar, percayalah..ridho atau tidaknya ibu mu nanti kita yakini, pilihan Allah yang terbaik dan rencana Allah yang terindah”.       
Entah apa yang membuatnya tak kembali menjawab pesan ku itu, sampai pada 2 Februari 2019, dia baru membalasnya dan mengucapkan terima kasih kak, Ibu ku sangat menyayangi ku. Sungguh sedih aku membaca pesan singkat namun dalam maknanya, tak ku sangka tak membalas pesan ku merupakan cara dia untuk berfikir sejenak tentang apa yang harus dia lakukan. Aku percaya bahwa sesuatu yang sederhana namun kita lakukan dengan sungguh-sungguh, Allah akan memudahkan nya dan menjadi hal sederhana itu menjadi hal yang berharga nantinya.
Ini ceritaku, jika tahun kemarin ERTS ku berakhir dengan foto bersama, kali ini aku menjadikannya berbeda..membuat seseorang bahagia ternyata sangat membuat kita mampu meneteskan air mata. Aku bukan orang yang berjasa pada masalah Dewi, namun aku orang yang beruntung karena mampu menjadi bagian dalam hidupnya untuk berbagi cerita. Kegirangan berlanjut malam tanggal 5 februari 2018, ia telah mendaftar jalur snmptn, harap-harap cemas ia hanya berdoa bahwa ridho ibunya mampu member jawaban terbaik atas keputusan nya saat ini.
 Ada harapan besar pada mereka yang harus tenggelam bersama ragu, menjadi sesuatu yang dapat membuat mereka yakin dan mampu adalah cara sederhana untuk membuat mereka terlihat tangguh. Karena sejatinya,, Harapan mereka adalah harapanmu.. mengapa begitu? Adanya keinginan dari seseorang, memberikanmu jalan untuk mengabulkan keinginan mu yaitu MEMBANTU. Asa mu adalah Asa ku.
Share on Google Plus

About dpathudin

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment