Falasifah, Etoser Semarang Berhasil Raih Emas di Negeri Sakura Jepang

Essay Perjalanan Kegiatan Japan Design & Invention Expo (JDIE) 2018
Tokyo Big Sight, Tokyo, 3-5 Agustus 2018
Oleh : Falasifah (Etoser Semarang Angkatan 2015)



Terniang betul dikepalaku, setiap pagi aku pamdangi gambar gambar yang tak ayalnya adalah mimpi mimpiku untuk menginkan kaki di bumi Allah yang maha luas. Gambar itu aku tempel dalam mading besar yang berisikan Grand Design Hidupku ,kurangkai dalam mimpi mimpi dengan target yang jelas. Ada 3 gambar utama dalam mading itu yakni Makkah, Tokyo University dan Biotech Thailand. Ketika kaki mulai menjajaki bumi sakura seakan aku ingat gambar itu. Gambar yang menjadi mimpiku. Setelah bulan maret lalu aku diberi karunia menginjakan kaki di bumi gajah putih
dan negri melayu. Satu gambar itu naik dari sudut asia tenggara dalam bingkai sakura. Allah , tak henti hentinya aku syukuri setiap detak nafas yang kini aku hirup di negri yang maju ini.

Pesawat mendarat dengan alunan mesra memperlihatkan asrinya jepang dalam kacamata udara. Buminya tertata rapi dan elok tanpa sampah bercucuran. Budanya anggun mempesona dengan sumber daya manusia yang ramah dan arif. Kami kesatriya Diponegoro akhinyapun berhasil menentang keterbatasan. Aku tidak sendiri, aku bersama enam temanku yang tergabung dalam satu tim perwakilan Indonesia dan Undip. Kedatanganku di jepang tak lain untuk mengharumkan nama bangsa kami di kancah dunia.

Berawal dari penelitian menarik mengenai Renewable energy dari bahan alam kami berhasil meneliti satu topik menarik yakni “Integreated Production of Fuel Grade Bioethanol and Biodisel from Organic Waste Using Hydrophonic Zeolite as Separating”. Penemuan tersebut akhirnya membawa kami untuk mencoba mendaftarkan dalam ajang internasional “ Japan Design and Invention Expo” dengan melalui seleksi ketat dari pihak penyelenggara. Setelah dinyatakan lolos perjuangan kami belum usai lantaran ada fee registrasi yang cukup besar dan biaya lain harus kami penuhi.

Proses ini menjadi proses terbesar kami dalam melawan keterbatasan. Banyak drama cinta Allah yang datang silih berganti. Dimulai pembayaran registrasi yang sangat mepet dan harus menggadaikan perhisan salah satu tim kami hingga proses pencarian sponsorship dan usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan kecil lainya.

Beastudi Etos menjadi gerbang optismeku dalam keberlanjutan acara ini. Karena beastudi etos telah mensupport prestasi membuat aku rasanya tidak boleh menyerah dalam mengapai asa ini. Terangnya support prestasipun mulai juga kami raskaan ketika salah satu perusahaan besar “TOYOTA” bersedia mensupport prestasi kami dengan dana yang cukup untuk meopang kehidupan kami disana.

19 Juli 2018, menjadi tragedi nyata dalam pertolongan Allah yang maha kaya. Suasana mendesak terlihat dalam setiap raut wajah tim kita lantaran ari ini kami harus mengurus visa dsedangkan kami belum membeli tiket pesawat dan booking hotel. Kami hanya berkeyakinan bahwa kami akan berangkat ke jakarta mengurus visa. Tanpa basa basi kami membeli tiket kerta untuk keberangkatan mengurus visa. Siangnya kami bertemu dnegan rektor ingin konsolidasi masalah ini. Dan tanpa pertanyaan banyak, bapak rektor langsung memberikan kami bantuan dana 25 jt untuk keberangkatan kami. Rabbi, sungguh engkau tunjukan kuasanya. Sehingga kami dapat langusng mengurus tiket pesawat dan booking hotel disana untuk pengurusan visa.

30 Juli 2018 kereta melaju dengan kencang menuju persinggahan terakhir di ibukota yang penuh sesak. Berdesak dalam statiun tersibuk dan meyadndarkan bahu bersama tim yang telah menunggu sarapan pagi yang siapkan dari semarang. Sarapan terasa nyaman dalam perantauan. Usai sarapan kami melaju ke bandara sukarno hatta terminal 3 menunggu pesawat yang akan melaju tangah malam nanti. Kami menunggu tim juga yang belum datang karena keberangkatannya dari tempat KKN di Pemalang.

Segala strategi untuk penghidupan selama di jepang kami persiapkan sehingga tak heran kami membawa satu dus mie gelas dengan mangkok dan sendok . awalnya ragu akan disita di bndara tapi kami hampir terlambat sehingga semua barang kami tidak diperiksa ketat. Keterlambatan masuk dalam gate, sebenarnya menjadi berkah besar bagi kami.

1 Agustus 2018 kami sampai mnginjakan kaki di bandara narita. Kebahagiaan kami terlukiskan dalam foto dan liputan VLOG. Kami mulai menjelajah lagi menuju penginapan di Higasi-Nihonbasi menggunakan LRT jepang yang super canggih. Banyak hal yang kami lihat dalam kereta mualai dari tata kota yang ramah lingkungan dengan panel surya berada di segala sisi tanpa megekploitasi tanaman yang ada.

Kekaguman lainya terhadap jepang selalu kami rasakan melihat budayanya. Kami sampai di Guest-House Trace suatu hotel kapsul yang super mini yang elegan dan efisien untuk merebahkan segala sesuatunya. Paaginya kami berkumpul dalam tim dalan ruangan hotel yang memili banyak fasilitas sperti kopi gratis, microwafe, oven, kompor dkk. Sehingga tak heran kami makan mie dengan mengandalkan fasilitas yang ada. Hampir empat hari full kami makan mie karena kekhawatiran akan kandungan babi dalam setiap makanan jepang. Dan lebih tepatnya kami tidak punya uang lebih untuk membeli makanan.

Prihatin di negri orang benar benar kami rasakan lantaran cukupnya dana kami hanya untuk transport. Tapi sungguh kami sangat menyukuri itu semua. Siang yang begitu terik itu kami siapkan untuk ke Tokyo of University dengan menaiki kereta bawah tanah. Kekaguman kembali terjadi ketika menemui gedung gedung kampus yang super cantik dan elegan dalam penatan kampus asri lengkap dengan mahasiswa yang banyak berlatih mencoba mengasah segala sofkillnya. Kami juga menyempatkan berkunjung ke kantin yang tak heran lagi super canggih. Dengan kebiasaan mengantri dan menaruh mangkuk serta peralatan makan lainya di dalam mesin yang membawa pada tempat cuci piring.

Kami berjalan dari tokyo university ke akihabara (tempat banyak ditemukan anime) namun sayangnya sesampainya di akihabara semua toko telah tutup dan kami memutuskan kembali jalan dari sana menuju penginapan. Tak terasa kita berjalan 5 km lebih. Sehingga tak heran jika tumbuhlah kapal kapal di kaki yang tertopan tubuh untuk menumpu.

3 Agustus 2018, agenda hari ini adalah study tour dari pihak penyelanggara di Museum emerging and Science Tokyo.  Hari ini adalah hari jumat sehingga kami harus mengantar tim kami yang laki-laki untuk menunaikan sholat jumat di masjid terdekat. Di masjid inilah kami menemui sesama muslim yang berasal dari negara timur tengah. Ada juga satu penjaga masjidyang dia bukan beragama islam namun sangat senang menjaga rumah Allah. Dia juga yang menunjukan masjid di dalam hotel yang dilantai satu ada barnya.

Dinegara yang minoritas Islam ini masjid memang sangatlah susah, kami sering sholat di ruang kosong ataupun jalan untuk bersujud kepada-Nya. Rasa syukur dikaruniai hidup di tanah indoensaia menjadi sangat terasa. Dari masjid itu kami bercengkrama ria dengan umat muslim lainya dengan disuguhi kopi dan  susu. Kami pun bertemu orang indonesia yang bekerja di jepang. Namanya mas andri dari bekasi, dia snagt baik dan mengantarkan kami hingga stasiun terdekat dengan area kami menuju museum. Namun sebelumnya dia juga membelikan kami nasi yang cukup untuk makan kami selama dua hari. Amazing relation !

Asyiknya cengkarama kami bersama umat muslim membuat kami terlambat ke museum shingga kami hanya masuk beberapa menit saja. Di dalam musem banyak pertunjukan robot dan science yang sangat menarik untuk di kulik.  Luar dari museum itu terdapat summer festifal  yang begitu ramai. Kamipuun mencoba menikmati alunan musik jepang yang sangat energik.
Kami pulang lumayan larut malam namun tak menghentikan kami untuk berdisuksi untuk kompetisi esok hari, kami menyiapkan segala amunisi dan pembagian presentasi. Kami terus berlatih hingga pukul dua pai kami semua terlelap.

4 agustus 2018, semua tim sudah berdandan dengan rapi dan siap menuju medan perlombaan dan exhibition. Kami sampai di tempat lebih awal dari tim lain sehingga kami bisa menyiapkan exhibition kami lebih matang. Tak  lama setelah itu penjurian dimulai dan kami snagt senang lantaran juri snagt mengapresiasi karya kami. Optimisme kamin tinggi bahwa kami akan membanggakan Indonesia. Seharian penuh kami mencoba mempromosikan penalitian kami kepada semua pengunjung. Hingga malam kami semppatkan sejanak untuk bersinggah ke sky tree slah satu wisata apik di jepang.

5 Agustus 2018, kami harus chek out lantaran kami hanya menginap 4 malam. Sehingga tak heran saat awarding kami membawa barang besar. Awarding menjadi masa-masa yang menegangkan bagi kami. Allahuakbar, kami medapat gold medal dalam kategory renewable energy and enviromental. Puji syukur tak hentinya kami haturkan sehingga kami dapat meraih asa ini.
Pulang dari awarding kami menghabiskan waktu di tokyo tower mengitari terik 34 derajat celcius. Rasnya ini menjadi karunia yang tak terlupakan. Terakhir kami kunjungi market oleh -oleh yang setidaknya menjadi ajang untuk memberi sedekah kepada banyak orang yang telah mensupport kami dalam doa maupun wujud lainya.

Malam ini kami tidak ada penginapan sehingga kami tidur di pojok ministop sebuah mini market yang buka sleama 24 jam. Lantai sudah menjadi teman kami sehingga badan ini tak ayalnya dapat tidur dnegan penuh ketentraman pagi pukul lima kami menuju ke bandara narita dan perjalanan pulang tujuh jam dipeswat kami lalui kembali. ALLAH banyak doaku yang aku titipkkan selama kua ijinkan mata ini melihat jepang meski tanpa sakuranya. Aku berharap dapat  kembali mengemban studi di tanah itu. Bersujud kembali dan mengabdikan diri unutuk kebermanfaatan umat.
Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment