Menepis Keterbatasan dengan Segenggam Keyakinan


     Perkenalkan, aku Eka Siwi Nurhayati. Teman-teman selalu menyapaku dengan panggilan Siwi ataupun Eka. Tentunya terselip sebuah harapan dari balik nama itu, dimana kedua orang tuaku berharap kelak putri sulungnya ini menjadi cahaya yang mampu memberikan kehidupan di sekitarnya. Layaknya cahaya matahari yang menjadi energi utama dalam sebuah kehidupan. Itulah doa dan harapan yang mereka selipkan padaku sembilan belas tahun yang lalu.
    Banyak yang berfikir bahwa aku terlahir dari keluarga yang serba kecukupan, dengan segala fasilitas yang serba ada. Namun tidak demikian. Latar belakangku hanyalah berasal dari sebuah keluarga sederhana. Ayah yang hanya seorang karyawan swasta, dan ibu yang hanya seorang penjahit rumahan. Malu ? tidak. Justru aku bangga pada mereka. Mereka adalah orang tua yang hebat, sebab merekalah aku menjadi diriku yang sekarang ini. Diriku yang bisa dalam berbagai hal, juga diriku yang pantang menyerah (katanya siih hehe).
     Aku sadar, aku bukanlah seorang jenius dengan seabrek prestasi, juga bukan seorang yang mampu secara finansial. Memang, itu semua sempat membuatku down, bahkan tak punya alasan lagi untuk menganyam pendidikan setinggi mungkin. Namun, hati kecilku menjerit, ia seakan menghujatku yang menyerah pada keadaan begitu saja. Hingga akhirnya, aku mendapatkan keyakinan entah dari mana itu, hingga dengan yakin aku katakan pada ibu, jika aku akan menjadi sarjana pertama dikeluarga ini. Sontak, beliau terkejut mendengar itu. Entah apa yang beliau fikirkan saat itu, mungkin dalam hatinya terselip harapan yang sama, namun apa daya, keadaanlah yang membuat beliau menyingkirkan jauh-jauh harapan itu.

Lantas aku berhenti sampai di sini ?

      Tidak. Aku tau, di setiap keyakinan pasti akan ada jalan. Aku tau, Allah tidak sejahat itu. Dia tak akan membiarkan hamba-Nya berlarut dalam kesulitan. Dia pasti akan memberikan kemudahan di setiap kesulitan, seperti janji-Nya dalam surat Al-Insyirah ayat 5 yang berarti “maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Aku yakin, dan aku percaya itu.
      Kian hari, semangatku semakin menggebu. Melihat keyakinanku itu, perlahan membuat hati ayah dan ibu luluh. Mereka mulai mendukungku dan memberi semangat padaku. Melihat itu, aku tak ingin mengecewakan mereka. Aku melakukan berbagai hal, mulai dari belajar lebih giat, dan juga mendekatkan diri kepada Sang Penentu Segalanya.
    Hingga akhirnya pertolongan-Nya pun datang lewat tangan seorang anak bungsu yang tak lain adalah adik dari ibuku. Om Nanang. Begitulah aku akrab menyapanya. Beliaulah yang turut melihat perjuanganku dari awal, mendampingiku dan membantuku mewujudkan mimpiku. Hingga suatu hari, beliau mengenalkanku dengan seseorang yang luar biasa, aku memanggilnya Mbak Lina. Lewat Mbak Lina lah aku dibimbing untuk mendapatkan beasiswa yang saat ini aku dapatkan. Beasiswa yang tidak hanya mengantarkanku pada bangku kuliah, melainkan juga beasiswa yang juga berperan dalam pembentukkan karakterku.
    Perjuanganku tidak sampai di situ, masih ada beberapa rintangan yang harus aku lewati. Salah satunya adalah Masuk ke Perguruan Tinggi. Dan itu tak semudah yang aku kira. Aku bahkan harus gagal beberapa kali. Di tolak SNMPTN, juga SBMPTN. Semangatku sempat luntur. Bahkan aku menangis tersedu-sedu dalam pelukkan ibu. Harapanku seakan hancur begitu saja. Semangatku pupus. Rasanya semua sudah berakhir. Gelap. Saat itu hanya gelap yang aku rasakan. Aku telah mengecewakan semuanya yang telah membantuku, dan menaruh harapan padaku, terutama ayah dan ibu. Apalagi ketika kulihat wajah ibu, ingin rasanya aku marah pada diriku sendiri. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri saat itu.
   Namun tidak pada ibu, beliau berusaha menenangkanku, melapangkanku. Beliau mencoba membangun lagi semangatku. Beliau pulalah yang membujukku untuk terus berikhtiar. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menuruti perintah ibu untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi lewat jalur Ujian Mandiri. Awalnya setengah hati aku melakukannya, karena aku yakin peluang yang akan aku dapatkan sangatlah kecil. Namun, melihat semangat ayah, ibu, mbak Lina dan Om Nanang yang mereka berikan padaku, aku kembali bangkit. Aku kembali menata semangatku, juga keyakikanku. Yaa. Aku yakin, mimpiku tak hanya sampai di sini.
     Hingga hari pengumuman itu tiba, dan kabar bahagia itu datang saat itu juga. Aku di terima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sontak aku tersedu seraya memeluk ibu. Tangis harupun pecah saat itu juga. Perjuanganku tak sia-sia. Allah telah menepati janji-Nya. Usahaku terbayar dengan sempurna.
Yaa, itulah secuil kisahku. Tak mudah untukku sampai pada tahap ini. Tapi, berkat usaha, keyakinan juga doa dan dukungan orang-orang disekitarku, semua keterbatasan itu dapat ku tepis. Itu membuktikan bahwa kita tidak boleh menyerah pada keadaan begitu saja. Tuhan memberikan kita keterbatasan itu untuk menguji seberapa yakin dan tangguh kita mampu menepis semua keterbatasan itu. Sebab, Allah tidak sejahat itu. Dia tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang sangat Ia kasihi berada dalam kesusahan, melainkan telah Dia siapkan kesusahan bersama kesusahan itu. Sebab, Allah tidak setega itu membiarkan hamba-Nya yang berusaha itu sia-sia melainkan akan Ia berikan hasil yang paling sempurna di setiap usaha yang telah hamba-Nya lakukan. Dan aku yakin serta percaya akan janji Allah itu. Sebab, bagaimana mungkin Allah akan menepati janji-Nya itu jika hamba-Nya itu sendiri tidak yakin dan percaya akan janji itu ?
Jadi, jangan pernah berhenti untuk yakin. Percayalah, Allah tak akan pernah mengingkari janji-Nya. Tepislah segala keterbatasanmu itu dengan segenggam keyakinan yang kau punya... 

#KuliahTakGentar
#KuliahItuMudah

Author : Eka Siwi Nurhayati
              Penerima Manfaat Beastudi Etos Angkatan 2014, Semarang



Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. I am very proud to announce my new writing course - easier to use, more responsive and better looking Have a look I think it's awesome, love to hear what you think…

    ReplyDelete