Melindungi Mimpiku dari Keterbatasan

 
(Rosingah, Hijab Berwarna Biru Langit)

   Tanggal 27 Juli sembilan belas tahun yang lalu adalah hari pertama dimana aku mulai memainkan peranku sebagai salah seorang tokoh utama dalam cerita hidup yang telah digariskan Allah SWT. Dan kisahku ini tentu berbeda dengan kisah kalian. ^^

     Aku terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dengan sebuah nama yang cukup sederhana, Rosingah. Dan aku pun tidak menduga jika nama yang sederhana ini suatu saat akan tercantum dan bersanding dengan deretan nama orang-orang hebat dalam daftar mahasiswa Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran UNDIP. Dan kau tahu ? Dimana lagi nama itu berdiri dengan mengumbar senyum ikhlasnya ? Beastudi Etos. Di sanalah namanya turut berbaris bersama dengan orang-orang yang ia kenal memiliki jiwa seorang pemenang, bersama orang-orang yang akan terus menariknya kembali ketika ia mulai berjalan berbalik arah. Tapi jangan lupakan, Kawan! Semua yang kugenggam sekarang bukanlah tanpa perjuangan. Semuanya bukanlah suatu hal yang jika aku tinggalkan untuk sekedar bermain-main kemudian aku kembali ia sudah akan terbungkus rapi di ata meja. Tidak.
Saat kecil dulu, aku menganggap diriku ini adalah orang yang serba ingin tau. Tidak jarang ibuku sering mendiamkanku jika aku terlalu banyak bertanya. 

   Pada masa itu, bersekolah di TK bisa menjadi sarana edukasi yang efektif untuk anak-anak seusiaku. Namun, di episode ini Allah membuat kisahku berbeda dengan yang lain. Ketika anak-anak seusiaku tertawa ceria bersama teman dan mainan warna-warninya di TK, untukku cukup bermain dengan sebatang kapur yang diambilkan oleh kakak perempuanku di sekolahnya dan sebuah papan kecil yang jika aku menuliskan sesuatu disana maka tulisan itu akan sulit dihapus karena terlalu kasar permukaannya. Dan sebenarnya papan kecil itu bukanlah papan untuk belajar menulis tapi itu adalah papan pintu kamar kakakku yang bisa dikatakan sebagai saksi atas suatu kejadian bersejarah dalam hidupku dulu.

    Pada suatu Senin di tahun 2002. Terlihat warna merah dan putih dimana-mana. Tak terkecuali warna merah dan putih dari seragam yang kukenakan. Seragam yang baru saja disetrika itu masih terasa hangat ketika aku berjalan ceria mengikuti teman-teman sebayaku menuju sekolah formal pertamaku yaitu SDN 1 Larangan. Dari sinilah cerita perjuanganku akan dimulai.

     Tahun 2008. Lulus tingkat sekolah dasar dengan nilai yang baik dan beberapa prestasi yang cukup bisa dibanggakan, aku dengan percaya diri mendaftar sekolah di SMPN 1 Kejobong. Namun, dibalik rasa percaya diriku ini aku tahu beberapa kali orang tuaku berbincang mengenai bagaimana kelangsungan pendidikanku nanti. Maka aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku tidak akan banyak menuntut dari kedua orang tua, cukup mereka memberikan restu dan aku akan berjuang. Dan akhirnya, dengan beasiswa yang aku dapatkan di SMP itu akhirnya aku berhasil menuntaskan wajib belajar 9 tahun pada waktu itu dan bersiap menuju seragam putih abu-abu.

   Tahun 2011. Episode tiga tahun yang lalu kembali terulang kawan. Keterbatasan bapakku yang hanya bekerja serabutan dan ibuku yang hanya seorang ibu rumah tangga menjadi angin badai yang siap melepaskan impian-impian itu dari genggamanku. Aku tidak banyak berkomentar. Aku hanya berusaha meyakinkan mereka bahwa tiga tahun lalu saja aku bisa membuktikannya. Jadi, bukan tidak mungkin kali ini aku juga bisa kan ?

    Saat itu aku dan temanku yang lain benar-benar dilanda kebingungan. Tapi jangan samakan aku dengan mereka, Kawan ! Kebingungan yang mereka alami adalah karena mereka bingung sekolah mana yang akan mereka masuki. Sekolah favorit tapi jauh dari orang tua atau yang biasa-biasa saja tapi tetap dekat dengan orang tua. Sedangkan aku ? Kau tahu, kawan! Bahkan aku akan sangat bersyukur jika kebingunganku adalah karena hal-hal seperti itu. Tapi ini berbeda, Kawan. Kebingunganku adalah mencari jawaban dari pertanyaan ini . . “ Apa yang harus kulakukan jika tidak melanjutkan sekolah ? Lalu bagaimana dengan nasib mimpi-mimpiku ?”

     Akhirnya aku mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk jika pada akhirnya aku tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Dari pagi hingga sore hari, aku mulai rutin melakukan aktifitas baruku yaitu membuat sapu lidi. Dari daun kelapa yang masih utuh hingga menjadi sapu lidi yang bernilai jual sekitar 1000 rupiah. Berharap terkumpul beberapa rupiah untuk mewujudkan mimpiku melanjutkan sekolah. 

    Hingga pada suatu hari bapakku memberikan tiga lembar uang bergambar Soekarno-Hatta yang mungkin bisa dihitung berapa kali aku pernah memegangnya. Kemudian beliau mengatakan padaku, “Cuma ini yang bapak punya, semoga pihak SMA mengenankan kamu menimba ilmu disana. Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakan”. Dan esok harinya, berbekal tiga lembar uang dan doa orang tua, aku pergi menuju calon sekolahku bersama dengan saudara yang kebetulan bekerja sebagai staff pengajar di sana.

   Dan pada akhirnya, Fa inna ma’al ‘usri yusraa inna ma’al ‘usri yusraa. Allah memberikan kemudahan itu membersamai kesulitanku. Dengan biaya seadanya, pihak sekolah menerimaku sebagai salah satu siswa di sana. Betapa Allah SWT memudahkan jalan bagi hambanya yang yakin akan kekuasaanNya. Dan kembali aku menguatkan tekad untuk menyelesaikan tiga tahun itu dengan tanpa kesia-siaan. Dinding bambu kamarku turut bersaksi akan kesungguhanku dalam belajar di setiap malam yang lengang. Alhamdulillah semua usahaku itu membuahkan hasil seperti yang semua orang inginkan. Aku berhasil lulus dengan nilai yang cukup baik dan  dinyatakan lolos seleksi SNMPTN. Dan dengan penuh rasa syukur aku menempatkan diriku di jajaran mahasiswa jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UNDIP dengan beasiswa.

     Seiring dengan berjalannya masa-masa mengenal bangku kuliah, pada suatu hari aku mendapatkan info dari sahabat seperjuangan semasa SMA dulu bahwa Beastudi Etos Semarang tengah membuka pendaftaran untuk penerima manfaat tambahan angkatan 2014. Tanpa pikir panjang aku langsung mempersiapkan semua persyaratan berkas yang langsung dipaketkan dari kota asalku, Purbalingga, karena memang semua berkas-berkas aku tinggalkan disana. Sejak aku mendengar pengalaman sahabatku semasa berada di Beastudi Etos, aku memang sudah sangat ingin bergabung bersama orang-orang disana. Entah kenapa saat itu aku yakin dengan beradanya aku disana, aku akan menemukan diriku yang seharusnya yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan apa yang aku bisa.

    Aku masih ingat ketika aku harus bolak-balik mengurus semua berkas dan melakukan seleksi yang harus dilakukan. Ketika derasnya hujan di Tembalang saat itu senang sekali memercikkan air hingga membuat rokku basah atau bahkan membuat sakit alergiku yang belum sepenuhnya sembuh itu sering kambuh. Dan juga mungkin membuat sahabatku kesal karena aku yang masih awam dengan keadaan daerah Tembalang pada saat itu terlalu sering bertanya tentang ini dan itu saat masa pendaftaran dulu. Tapi, terimakasih untuk semua bantuannya sahabat. Aku akan terus mengingatnya. ^^

     Dan sekali lagi aku membuktikan cara Allah SWT memberikan kejutan-kejutan untuk hambaNya. Aku berhasil lolos seleksi dan bergabung dengan keluarga kecil bahagiaku The Divers of Glory, dan keluarga besar yang penuh dengan pemuda kontributif Beastudi Etos Semarang.
Beastudi Etos Semarang. Di sinilah aku sedang berproses menjadi seseorang berprofil PEMUDA Kontributif. Dan yang aku yakini sampai sekarang adalah bahwa keyakinan, doa dan usaha sangat dibutuhkan sebagai pengikat antara kita dan mimpi-mimpi kita. Jadi, yakinlah jika KAU PASTI BISA !! ^^

Author : Rosingah
            Penerima Manfaat Beastudi Etos Angkatan 2014, Semarang
Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment