Bukankah Tuhan Maha Adil?





(Aditya Nurullahi, Depan-Kanan, Pakaian Silver)


      Maret 2013, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku di SMK dengan predikat sebagai salah satu lulusan terbaik di jurusan. Bangga dan bahagia. Cercah cahaya ini membuatku lebih percaya diri untuk menatap dan menjejakan langkah di jenjang yang lebih tinggi di bangku kuliah. Namun, aku melihat awan hitam menutupi cercah harapan itu. Aku berusaha menyadari kenyataan bahwa secara moral aku bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Ibu dan kedua Adikku. Kuliah hanya akan menambah beban Ibu yang pada saat itu hanya bekerja serabutan tanpa penghasilan tetap.

       Sebuah insiden di penghujung 2012 merenggut hidup tulang punggung keluarga kami. Rasanya baru kemarin aku berpisah dengannya. Gurat wajahnya masih jelas terekam dalam kenangan. Saat melepas anak sulungnya ini pergi. Dua insan yang terikat hubungan darah saling melambai dan tersenyum. Tidak aku sangka, itu adalah perpisahan kami yang terakhir. Ya, itu adalah senyum terakhir yang kulihat dari wajahnya. Ayah ternyata pergi untuk selamanya.

       Kepergian Ayah mengguncang kondisi ekonomi keluarga. Ibu menggantikan peran ayah sebagai seorang tulang punggung keluarga sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Uang sewa rumah sebesar  setengah juta rupiah per bulan dan SPP kedua adikku pada saat itu terasa sangat memberatkan. Dan itu semua belum termasuk biaya hidup kami berempat. Aku sadar bahwa ibu tidak bisa berjuang sendiri. Berangkat dari keadaan tersebut, mendapatkan pekerjaan menjadi satu-satunya pilihan rasional pada saat itu. Maka aku putuskan untuk menunda kuliah. Mengubur mimpi itu untuk sementara waktu, entah sampai kapan. 

       Juli 2013, beranda facebook-ku dipenuhi sejumlah status kawan-kawan sejawat. Sebuah ekspresi kebahagiaan atas kelulusan mereka pada SBMPTN. Aku tersenyum tipis. Berusaha larut dalam euphoria, tetapi sulit. Aku sadar sedang membohongi diri sendiri. Batinku teriris. Serasa seperti tersayat. Kepalan tangan ini berusaha menahan diri dari mengutuk nasib atas realitas yang terjadi. Saat kawan-kawan ku sibuk mendaftar di kampus pilihan bersama orangtuanya, aku menghabiskan waktuku berjibaku di tengah hiruk pikuk ibukota, mengais rezeki untuk keluarga di rumah. 

      Sebagian besar waktu ku habiskan untuk menyendiri. Membatasi diri dari kehidupan sosial dan menjadi pribadi yang lain. Terkadang ku habiskan waktu sendiri itu untuk sekadar membaca beberapa literatur, hingga sampailah aku pada titik balik dalam hidup.

    “..karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan banyak padanya” Q.S (4:19). Sebuah penggalan firman Tuhan mulai membuka mataku. Entah kekuatan magis apa yang terkandung dalam literatur tersebut, tetapi ada rasa berbeda setelah membaca ayat tersebut. Ada secercah harapan yang perlahan tumbuh. Mengajakku untuk beranjak bangkit dan memainkan fase baru diatas panggung kehidupan. Dalam pilu aku berdoa; “Wahai Allah, bantu aku mewujudkan mimpiku”.

      Aku menghabiskan waktu satu tahun bekerja sebagai guru bahasa Inggris di salah satu Bimbel di Jakarta Selatan. Pekerjaan mengajar memang tidak relevan dengan bidang studi pemesinan yang aku ambil semasa di SMK. Namun, mendapatkan pekerjaan di Jakarta tidak mudah bagi mereka yang hanya lulusan SMK. Dan Ibukota hanya menyisakan pekerjaan ini untukku. Meskipun dengan penghasilan di bawah UMR, aku bersyukur mampu menghidupi keluargaku. Melihat kedua adikku masih bisa bersekolah cukup menjadi parameter kebermanfaatanku bagi keluarga. Di akhir minggu aku sempatkan untuk mengabdikan ilmu di Panti Yatim Indonesia. Aku tahu rasanya kehilangan dan aku pun mengerti bagaimana rasanya dibantu. Inilah yang mendorongku untuk bermain di lautan ilmu dengan adik-adik yang kurang beruntung ini.

     Sibuk bekerja tidak membuatku lengah belajar untuk persiapan SBMPTN 2014. Waktu makan siang kugunakan untuk mengerjakan soal-soal latihan. Di dalam angkot yang berdesakan masih aku sempatkan mengerjakan soal-soal algoritma yang benar-benar menyita waktu ku. Ambisi untuk kuliah membawaku menjadi pribadi yang oportunis, memanfaatkan setiap detik dalam hidup agar tidak terbuang sia-sia. Belajar dimanapun dan kapanpun. Pada malam hari tepat sepulang bekerja, aku gunakan untuk kembali mengulas soal-soal yang sudah kukerjakan pada  pagi sebelumnya. Rasa lelah dan kantuk setelah seharian bekerja terkadang memaksaku tertidur diatas lembaran-lembaran soal yang tengah kukerjakan. 

    Singkat cerita, aku telah mengikuti dua tes tulis PTN pada bulan juni 2014; SIMAK UI dan SBMPTN. Satu bulan berselang, hasil tes SIMAK UI dirilis. Aku terduduk manis di depan monitor. Menanti lingkaran loading berhenti berputar. Wajar saja, jutaan rakyat Indonesia mengakses alamat yang sama di waktu yang bersamaan. Dengan penuh harap aku nantikan hasil tersebut untuk segera memunculkan namaku. Lingkaran itu akhirnya berhenti berputar. Menampilan sebuah halaman baru dengan logo UI di pojok kanan atasnya. Terpampang namaku disana. Nafasku terhenti sejenak. Aku tersenyum tipis. Sebuah tulisan yang terpampang di monitor memintaku untuk mencoba kembali tahun depan.

”Tuhan, apa maksudnya ini?” aku membatin.

     Kecewa dan kalut. Jerih payah dan pengorbanan selama satu tahun terakhir belum membuahkan hasil. Aku hanya bisa tertunduk lemas dan membisu seribu bahasa. Namun, di tengah rasa gundah aku teringat sesuatu.

“Masih ada SBMPTN” gumamku.

    Ini adalah harapan terakhirku. Masa depanku akan ditentukan dengan hasil pengumuman tes tersebut. Rasanya seperti pertaruhan hidup dan mati. Kembali menunda kuliah tahun depan adalah sebuah kematian bagiku. Aku tidak mungkin terus melakukan rutinitas yang sama. Aku harus tumbuh dan berkembang. Dan kehidupan baru akan bermula saat aku berhasil melalui ujian hidup ini.

     17 Juli 2014, Tuhan membayar perjuanganku selama setahun terakhir. Namaku terdaftar sebagai peserta SBMPTN yang berhasil lulus tes tulis. Ilmu sejarah UNDIP adalah rumah baru dimana aku akan menetap dibawah naungannya untuk beberapa tahun ke depan. Ya, jurusan yang mungkin tabu bagi sebagian orang. Sulit move on katanya. Entah ini lelucon atau apa, bagiku ini adalah motivasi untuk merubah persepsi klasik itu. Kampus hanyalah bandara bagiku. Sedangkan jurusan adalah pesawat yang akan membawaku terbang. Melihat dunia dan meninggalkan jejak di atasnya. Aku yakin itu.

    Kerisauan kembali muncul. Kali ini bukan tentang jurusan yang ku pilih. Ini tentang lokasi kampus yang jauh dari rumah. Bukan lagi di Jakarta, tetapi di Semarang. Aku tidak memiliki sanak saudara disana. Hanya seorang kawan yang terlebih dahulu kuliah disana. Berbekal tekad baja dan ridho Ibu, aku putuskan untuk merantau.

      Sudah lama aku menjalin kontak dengan kawanku di Semarang. Setelah kuceritakan keadaan pelik yang aku alami, dia akhirnya dengan senang hati bersedia menampungku untuk sementara waktu. Uang saku yang ku bawa sangat terbatas dan hanya mampu membantuku bertahan selama beberapa minggu kedepan. Uang itu adalah hasil tabunganku selama bekerja di Jakarta yang sebagian kusisihkan untuk bekal hidup keluarga di Jakarta.

     Satu minggu pasca tiba di Semarang, aku mencoba melamar berbagai pekerjaan di Tembalang. Mulai dari tukang cuci piring dan pramusaji di rumah makan. Namun setelah berbagai pertimbangan, aku dan temanku memutuskan untuk membuka usaha sop buah. Kami menjajakan sop buah tersebut pada pagelaran PIMNAS ke-27 di kampus. Sayangnya usaha tersebut hanya bertahan beberapa hari dan berakhir bangkrut. Uang ku semakin menipis. Habis untuk modal usaha. Padahal kami belum memulai perkuliahan pada saat itu. Aku berusaha tenang untuk berpikir sejenak. Aku tidak mungkin putus asa setelah sejauh ini berjuang.

      Dalam suatu kesempatan aku mencoba menyebarkan pamflet “Guru Privat” di sekitar Tembalang. Berharap itu adalah usaha terakhir yang bisa aku lakukan untuk memperoleh penghasilan agar bisa bertahan hidup di perantauan. Alhamdulillah, dua minggu berselang akhirnya mendapat panggilan untuk mengajar.  

     Kepergianku ke Semarang jelas mengguncang stabilitas ekonomi keluarga. Lebih parah lagi, keluargaku di Jakarta terpaksa harus “direlokasi” dari kontrakan kami sebelumnya. Ya, karena alasan klasik “orang kontrakan”. Namun, atas kebaikan seorang dermawan, untuk sementara waktu mereka diizinkan tinggal di sebuah gudang toko yang sudah tidak terpakai. Kabar pilu tersebut membuatku prihatin dan sedih. Aku merasa tidak mampu berbuat banyak untuk mereka. Hanya untaian doa di setiap sujud yang bisa ku persembahkan; agar Allah menjaga mereka. Dan sebuah janji untuk berprestasi.

     Apa yang menimpa kami sejauh ini menjadi sebuah kekuatan tersendiri. Menjadi katalisator bagiku untuk meraih sukses dalam perkuliahan. Untuk  berjuang lebih keras dan gigih dalam menghadapi setiap tantangan. Aku berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan kesempatan kuliah ini untuk meningkatkan kapasitas diri. Mulai dari mengikuti berbagai kompetisi dan event-event internasional pada semester awal. Memang pada awalnya aku seringkali gagal. Tapi dari situ aku belajar. Untuk bangkit dan mencoba lagi.

     Aku ingin melihat dunia dan tumbuh kembang bersamanya. Maret 2015 adalah awal aku membuka pintu dunia. Aku dan kedua temanku dari almamater yang sama diundang untuk menghadiri AYSF (ASEAN Youth Seminar-Forum), sebuah forum pemuda internasional di Filipina. Disana aku diminta memberikan pidato diplomatik mewakili delegasi dari Indonesia. Tidak disangka, sambutan dari tuan rumah sangat antusias. Dan disanalah aku mulai membangun jejaring internasional dengan kawan-kawan ASEAN. Perjalanan melihat dunia terus berlanjut. Satu bulan berselang aku diundang menghadiri ASEAN Youth Forum di Malaysia dan pada bulan Agustus di tahun yang sama, aku dan salah satu temanku diundang untuk mempresentasikan makalah kami di Thailand. Tiga negara berhasil aku kunjungi dalam kurun waktu satu tahun. Tidak hanya prestasi internasional yang aku ukir. Untuk tingkat nasional, aku berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Pemenang Karya Terbaik dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif yang diadakan UGM. Selain itu, dua projek riset kami juga berhasil mendapatkan bantuan pendanaan dari fakultas dan universitas. 

        Selain terlibat dalam kegiatan akademis, aku turut terlibat aktif dalam kegiatan organisasi, ekstra maupun intra kampus. Untuk organisasi ekstra, aku mendapat amanah sebagai kepala departemen Humas KAMMI FIB UNDIP. Dan untuk intrakampus, sebagai staf muda di BEM UNDIP dan Rohis Fakultas. Itu semua belum berakhir disitu. Semua pencapaian selama 3 semester terakhir menuntunku pada sebuah mimpi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebuah mimpi yang mungkin hanya pantas dimiliki oleh golongan elit dan kutu buku.

   Setelah serangkaian seleksi yang ketat, fakultas memberikanku anugerah sebagai juara III mahasiswa berprestasi (Mawapres) tingkat fakultas. Amanah sebagai mawapres III FIB kini berada diatas pundakku. Disatu sisi, aku merasa tidak pantas mengingat masih ada yang lebih baik. Tapi aku yakin Tuhan Maha Adil. Dia hanya memberikan sejauh seberapa besar upaya hamba-Nya. Dan kini aku merasa keadilan tersebut.  

    Semua pencapaian sejauh ini memberikanku sebuah pelajaran berarti. Keberhasilan dibangun diatas kegagalan. Ia menuntut akumulasi dari usaha keras dan doa yang tulus. Saat itu semua terpenuhi maka biarkan Tuhan memainkan kuasa-Nya. Aku yakin prinsip hidup itu nyata.

     Melalui tulisan ini izinkan penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada keluarga Etos Semarang dan Beastudi Etos. Menjadi bagian dari Etos telah membantu saya menjadi insan yang lebih berarti. Sungguh Allah sebaik-baiknya pemberi balasan. 

Author : Aditya Nurullahi
             Penerima Manfaat Beastudi Etos Angkatan 2014, Semarang
Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment