Perjuangan Belum Berakhir !!!


    Tepat ketika tanggal 14 Desember 1995 sebuah keluarga yang bisa dianggap sebagai keluarga yang kurang mampu saat itu mendapat kebahagiaan yang amat luar biasa, yaitu kelahiran diriku Aditia Estiawan yang lahir tepatnya ketika hari Kamis Pahing ba’ dha magrib. Kebahagiaan yang saat itu menyelimuti keluargaku hanya berlangsung sekitar dua minggu saja karena setelah itu aku divonis oleh dokter mengidap penyakit flek paru-paru yang memaksa aku harus dirawat dirumah sakit, dan tubuh pun diitari oleh selang infus. Selain itu aku juga tak dapat merasakan ASI dari ibuku yang biasanya bayi seumuranku saat itu sedang senang-senangnya mendapatkan asupan ASI.

    Seiring berjalannya waktu serta pertumbuhan pada diriku, ketika umurku sekitar enam tahun aku ingin sekali masuk ke TK karena teman-teman sebayaku sudah banyak yang masuk TK. Namun apadaya diriku dengan keadaan ekonomi yang tidak mendukung terpaksa aku harus menunda bahkan mengurungkan hasratku itu. Namun walaupun aku tak dapat mencicipi suasana TK aku tetap bisa mencicipi sekolah Dasar, dengan sekolah dasar yang dipilihkan oleh ibuku yaitu SD N Asem Cilik yang kira-kira berjarak 2 km dari rumahku. Memang sejak kecil aku dan saudara-saudaraku tinggal bersama kakek nenekku karena orang tuaku pergi ke kota untuk mencari nafkah yang pulangnya hanya sebulan sekali. Aku dan keempat saudaraku sudah dididik oleh kakek nenekku dengan kemandiriannya dan hidup dengan prihatin. Aku pergi ke sekolah bersama saudara-saudaraku dan teman-teman kampungku berjalan kaki, meskipun jarak yang ditempuh lumayan jauh namun aku tetap semangat untuk sekolah. Sekolah tanpa uang saku sudah menjadi hal yang biasa kualami bersama saudara-saudaraku, namun kadang rasa jengkel karena tak dapat uang saku itu muncul, tapi itu hanya bertahan beberapa waktu saja karena kakekku selalu memarahiku dengan beliau berkata “ kowe kie arep sekolah po arep jajan”( kamu itu mau sekolah atau mau jajan) setelah kakek berkata demikian aku dan saudara-saudaraku terenyuh dan berangkat sekolah tanpa uang saku. Rumah kamipun saat itu belum ada listrik masih menggunakan sentir untuk meneranginya sehingga biasanya kami belajar itu siang hari pulang sekolah.

   Saat aku sudah lulus dari SD maka aku bingung pada saat itu karena biayalah kembali yang menjadi penghalangnya, namun demikian akhirnya aku dapat juga masuk ke SMP yang bisa dibilang favorit di daerahku yaitu SMP N 4 Sentolo. Saat SMP aku pergi ke sekolah mengendarai sepeda ontel butut yang dibelikan oleh kakekku, dan setiap aku berangkat aku memboncengkan kedua adik perempuanku yang sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi mereka. Saat SMP aku sering dipanggil bidang administrasi karena aku belum membayar uang gedung dan uang seragam. Saat aku satu bulan masuk SMP saat itu aku masih menggunakan seragam SD karena aku belum bisa beli seragam, tetapi hal itu tak membuatku patah semangat untuk berprestasi. Ketika ada ajang lomba pidato bahasa jawa di sekolahku aku mengikutinya dengan mengikuti lomba ini dan mendapat peringkat aku ingin membuktikan bahwa aku adalah siswa yang perlu diperhitungkan kecerdasaanya. Akhirnya keinginanku itu dikabulkan oleh Allah SWT walaupun aku hanya mendapat peringkat dua dan tak bisa mewakili sekolah ditingkat selanjutnya.

   Di SMP aku saat itu belum terlalu mengenal agama, ibadahpun aku jarang melakukannya sehingga kadang aku dimarahi guruku karena tak sholat subuh ketika guru agamaku menanyakaan pada siswa-siswinya dan juga saat itu aku belum bisa membaca Al Qur’an yang setiap pagi semua siswa wajib bertadarus 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Walaupun sekolahku negeri tetapi tetap memperhatikan kaidah-kaidah islam dan diajarkana pada siswanya serta dipraktekkan dalam kehidupaan disekolah maupun di rumah.  Di SMP ku harus mengikuti ekstrakulikur baca tulis Al Qura’an bagi yang beragama islam. Nah dari situlah aku sedikit- demi sedikit bisa membaca al qur’an. Aku belajar al qur’an juga dikampungku walaupun dari segi usia untuk sekelas SMP aku sudah harus lancar membaca al qur’an tapi saat itu aku masih tertatih-tatih membacanya namun hal itu tak mematahkan semangatku untuk belajar al qura’an, karena tak ada kata terlambat untuk menimba ilmu. Pada saat semester dua kelas VII aku masuk pondok pesantren atas inisiatif diriku sendiri karena semangat mempelajari agama yang bergelora saat itu. Tahfizdul Qura’an Wa Zdikrul Qolbi begitulah nama pondok pesantren yang didirikan oleh H. Imam soebarno salah satu pejabat kepolisian di polda DIY yang aku dapat menuntut ilmu disitu secara gratis dan disana aku mulai mengenal teman-temanku dari darah lain di Indonesia yang mayoritas mereka berusia 19 tahun ke atas, hanya beberapa santri saja yang berusia sama denganku.

   Saat aku belajar di pesantren aku masih sekolah di SMP ku dulu karena pesantrenku belum ada sekolahannya. Aku berangkat kesekolah biasanya naik sepeda bersama teman-temanku yang memang jarak tempuhnya lumayan jauh. Santri di pesantrenku kebanyak mereka sudah tak sekolah lagi sehingga mereka fokus untuk menghafal al qur’an. Dengan masuknya diriku ke pesantren membuat kegiatanku menjadi lumayan padat. Aku pulang sekolah hnay dapat istirahat sebentar karena setelah ashar aku masuk ke Diniyah sampai jam lima setelah itu mandi dan makan. Memang jadwal makan malam kami sebelum magrib dan makan siangnya sesudah zdhuhur kami tak mendapat makan pagi, namun itu tak masalah buatku karena disitu kami juga gratis. Sesudah magrib kami belajar Tahsin bersama santri senior sampai isya’. Sesudah isya’ pun kami menyetor muroja’ah hafalan kami  setelah itu baru kami belajar pelajaran sekolah. Paginya ba’dha subuh kami harus menyetorkan hafalan kami. Semua itu kulalui dengan hati yang ikhlas , walaupun waktuku begitu padat tapi aku masih dapat nilai yang memuaskan di sekolah karena kami selalu diberi wejangan oleh ustad kami bahwa barang siapa mencari ilmu akhirat maka dia akan mendapat juga ilmu dunia, dan barang siapa mencari ilmu dunia belum tentu ia mendapat ilmu akhirat. Itulah yang menjadi pedoman ataupun prinsip kami yang selalu kami pegang. Aku di pesantren hanya dua tahun karena saat aku kelas IX dan hampir ujian aku memutuskan untuk keluar dari pesantren . Ketika aku kelas IX aku membantu orang tuaku mencari nafkah dengan bekerja menambang batu kapur, karena batu kapur di daerahku laku untuk dijual. Aku menambang batu biasanya sehabis sekolah atau saat hari libur bersama teman-teman di desaku. Hasila dari menambang batu tersebut nantinya akan kugunakan untuk melunasi pembayaran sekolah saat aku kelas VII, karena saat itu BOS belum ada. Biasanya kami dalam seminggu dapat mengumpulkan batu sekitar satu ret (satu truk) yang dihargai Rp 120.000 dan kami bagi menjadi 4 anak. Walaupun hasilnya tak seberapa namun aku cukup senang karena dapat meringankan beban orang tuaku.

   Sehabis ujian nasional aku bingung harus melanjutkan kemana, karena ekonomi lagi yang menjadi penghambatnya. Sejak awal aku ingin sekali masuk ke SMK N 1Rembang yang termasuk sekolah favorit di daerahku namun Allah belum meridhai hasratku tersebut. Akhirnya aku sekolah di Magelang karena aku menyusul saudaraku untuk sekolah disana dengan gratis karena nantinya aku juga akan tinggal di salah satu panti asuhan. Nama panti asuhanku itu adalah Panti Asuhan  Yatim Utsman Bin Affan, kemudian oleh pihak panti aku disekolahkan di SMA Muhammadiyah Ngluwar. Awalnya aku membayangkan bahwa kalau SMA itu megah namun realitasnya sma ku tersebut sangatlah kecil hanya tiga ruang kelas saja itupun jurusannya hanya ips saja. Namun aku yakin sekolah yang besar belum tentu menjajikan akan kesuksesan siswanya, karena mengenai sukses atau tidak itu kembali pada individu masing-masing. Sejak awal aku selalu dinasehati oleh seniorku bahwasanya sekolah kita boleh dibilang sekolah desa namun prestasikita haruslah bisa menyaingi sekolah kota. Dari nasihat itulah yang menjadi pelecut semangat untuk aku belajar di sekolah tersebut. Memang rencana Allah itu lebih indah daripada rencana manusia itulah yang aku sadari saat itu karena ketika di panti asuhan aku dididik tidak hanya ilmu umum saja namaun sosial dan tentunya agama juga kami pelajari. Di panti asuhan aku juga dilatih untuk disiplin dan bertanggung jawab karena disana sistem militerlah yang digunakan jika kita mendapat iqob atas pelanggaran yang kita lakukan. Disana juga kami diberi tanggung jawab untuk merawat adik asuh yang masih berusia 11 tahun kebawah yang belum sepenuhnya bisa mengurusi dirinya-sendiri. Dalam hal sosial kami selalu berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan misalnya membantu membangun masjid ataupun ikut mensukseskan kegiatan mahasiswa yang bekerjasama dengan panti asuhanku misalnya pengobatan gratis, ataupun bakti sosial lainnya. Kemudian ketika saat ramadhan kami biasanya diikutkan ke pelososk-pelososk desa untuk iftor bersama yang mana didaerah tersebut muslimnya minoritas dan terancam akan kristenisasi. Kemudian di pamti asuhanku kami juga dilatih beladiri yang mana beladiri inilah yang biasanya menjadi ajang berprestasi kami.

Disekolah walau kami keterbatasan alat ataupun media pembelajaran kami siswa sma tetap semangat untuk belajar dan hal itu membuat sekolah kami perlu dipertimbangkan kualitasnya khususnya dikancah kabupaten. Meskipun dari kuantitas kami sedikit namun kami harus menutupinya dengan kualitas kami itulah yang selalu disampaikan oleh almarhumah kepala sekolahku. Dengan kuantitas yang sedikit itulah kami dapat perhatian yang lebih dari pihak sekolah maupun pihak panti asuhan. Kami selalu berpartisipasi dalam berbagai perlombaan lebih-lebih dibidang agama dan olahraga. Ya dalam bidang olah raga itulah aku dapat prestasi, apalagi sekolahku tak pernah absen menyabet gelar di  ajang POPDA maupun KEJURDA.

   Ketika menjelang ada perlombaan khususnya beladiri kami akan digojlog fisik maupun tehnik kami, sehingga kami benar-benar siap turun ke gelanggang pertandingan. Rasa capek atas kerja keras kami akan terasa terbayar ketika kami dapat menyabet gelar juara, dari gelar juara itulah aku dan kawan-kawanku dapat memberikan kontribusi kepada sekolah kami demi eksistensinya di dalam jajaran pendidikan. Waktu-waktu masa sma itu memang sangat menyenangkan apalagi dengan kegiatan yang dikombinasikan dipantiasuhanku.

   Tak terasa tahun terakhirku di sma, aku harus berfikir keras mengenai masa epanku selanjutnya. Aku hanya iseng-iseng aja dan memang tak ada niatan sebelumnya mendaftar perguruan tinggi lewat salah satu beasiswa yang bernama BEA STUDI ETOS. Tahap-tahap seleksi dapat aku lalui bersama teman-temanku, namun teman-temanku akhirnya berguguran juga terutama saat pengumuman SNMPTN, bahkan akupun tidak lolos. Tapi aku tak urungkan usahaku untuk mendapat beasiswa tersebut ibarat kita telah basah terkena air maka kita berusaha mendapatkan sesuatu dari kebasahan tersebut. Dari uang pemberian guruku maka aku mendaftar tes SBMPTN dan seleksi di jogjakarta. Alhamdulillah dari tes tersebut aku dapat lolos di UNDIP ya walaupun jurusannya bukan favorit namun guruku memberi semanagat kepadaku bahwasanya jurusan jangan terlalu dipikirkan kalau soal pekerjaan dan rizki Allahlah yang mengatur.

   Aku sebelum berangkat ke semarang bekerja untuk beberapa hari, hasil dari jerih payah itulah ku gunakan untuk berangkat ke semarang. Saat registrasi ulang di kampus UNDIP Allah mencoba menguji kesungguhanku untuk betholabul ilmi, saat aku menyerahkan berkasku ke petugas ternyata aku belum membayar UKT maka aku diperkenankan untuk keluar. Dengan hati agak kesal aku keluar dan ternyata ada pertolongan dari seseorang untuk bersedia membayarkan UKT ku itu. Saat itu aku merasa bahagia sekali memang firman Allah itu selalu menuju pada hambanya untuk dijadikan pembelajaran fainnamaal usri usra innam’al usri usra sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

   Dengan bergabungnya aku dietos maka disana aku mendapatkan pembelajaran yang luar biasa dan dapat bergaul dengan orang-orang yang luar biasa yang memiliki kelebihan dibandingkan mahasiswa lain, maka hal itu juga memberikan pengaruh juga pada diriku semangat untuk menjalani kehidupan ini terus dipacu dn juga semangat menuntut ilmu baik itu ilmu akademik maupun ilmu soft skill, diaman aku mendapatkan soft skill dari organisasi di kampus. Alhamdulillah pada semester ini aku mendapatkan amanah di beberapa organisasasi misalnya di rohis fakultas aku menjadi sekertaris departemen syi’ar dan di pengurus maskam aku menjadi penanggung jawab di wisata qur’an maskam Undip. Dari amanah yang ku emban itu aku harus terus berjuang karena perjuangan belum berakhir bung.....

Author : Aditya Estiawan
             Penerima manfaat Beastudi Etos Angkatan 2014, Semarang
Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment