BERBURU ILMU DI NEGERI 1000 PAGODA

Eko bersama peserta Cultural Tourism Management (dok.pribadi)
Semarang, 7 Juli 2015

Baru-baru ini ada kabar datang dari penerima manfaat beastudi etos dari wilayah semarang, bukan kabar burung yang membawa berita lelayu tetapi kabar baik dan istimewa datang dari salah satu etosernya. Di antara kita mungkin sering mendengar mahasiswa jalan-jalan ke luar negeri ke Malaysia, Filipina, Paris, Prancis, dan Amerika. Setiap yang memiliki uang akan sangat mudah mewujudkan niatan itu. Tetapi, bagaimana jadinya kalau niatan untuk bisa ke luar negeri datang dari penerima beastudi yang nasibnya bisa dibilang pas-pasan saat kuliah?.

       Orang seperti ini, bukan hanya ingin jalan-jalan ke luar negeri semata tetapi kesempatan langka yang didapatkannya akan dijadikan untuk menambah pengalaman dan ilmu dalam perjalanan hidupnya karena kesempatan untuk berkunjung ke negeri orang sangat tidak mudah ia dapatkan. Berawal dari keinginan untuk mengetahui kebudayaan dan pariwisata negera di ASEAN lebih tepatnya Thailand, salah satu penerima manfaat atau yang sering disebut etoser, memeberanikan diri untuk memenuhi semua persyaratan yang diminta dari acara yang hendak ia ikuti. Acara yang menjadi incaran etoser ini adalah seminar and workshop on cultural tourism management in ASEAN country Silpakorn university Bangkok Thailand. Dari mulai mengisi formulir pendaftaran, membuat cerita perjalanan hidup, sampai pengalaman di bidang kepariwisataan ia kirimkan. Dari penuturan yang bersangkutan masih ingat sekali saat pertama mengirim berkasnya tepat di hari minggu, 24 Mei 2015.

    Mahasiswa yang duduk di semester 6 Jurusan statistika ini dengan cepat menyelesaikan persyaratan yang diminta dari pihak penyelenggara. Setelah semua lengkap dikirimlah semua berkasnya. Akhirnya, tepat tanggal 20 Juni 2015 diumumkan bahwa etoser yang bernama lengkap Eko Siswanto ini dinyatakan lolos seleksi dan tidak dipungut biaya apapun selama keberlangsungan acara. Ketika mendengar kabar ini, Eko sapaan akrabnya, sangat bersyukur dan gembira akhirnya bisa belajar di negeri yang terkenal dengan 1000 pagoda ini. Dengan semangat dan tekad yang kuat akhirnya etoser ini bisa berangkat mengikuti acara di Bangkok Thailand. Acara berlangsung selama 3 hari. Hari pertama, menurut penuturan Eko, sangat menarik sekali karena belajar manajemen pariwisata dari sang ahlinya yaitu para pakar pariwisata di ASEAN. Dari mulai bagaimana mengembangkan potensi wisata situs peninggalan bersejarah sampai dengan menjadikannya penyumbang devisa terbesar di negara yang juga terkenal dengan julukan negeri malaikat ini. Hari kedua, jadwalnya mengunjungi pariwisata yang berbasis pra-sejarah di thailand, musium lebih tepatnya. Namun, musiumnya berbeda dengan kebanyakan musium pada umunya. Tempatnya benar-benar memadukan ntara sejarah perkembangan jejak kehidupan di thailand, teknologi modern, dan Ilmu pengetahuan, yang dikemas secara apik dan cantik sehingga tidak membuat bosen pengunjungnya.

     Di hari terakhir, dari pihak penyelenggara mengajak ia berkeliling ke tempat-tempat wisata sejarah yang ada di sekitar Bangkok. Diantaranya sungai chao praya, wat po, masjid tertua di thailand, gereja tertua, kuil tertua di Thailand, dan wisata komunitas. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan pembagian membagikan boneka berbentuk gajah secara gratis ke semua peserta, berfoto, kemudian kembali ke hotel untuk esok harinya kembali ke tanah air. Eko mengungkapan, salah satu hal yang tak terlupakan ialah bisa tampil saat mala Gala Dinner di malam keduanya dengan memakai pakaian adat Jawa blangkon seperangkatnya yang membuat decak kagum para peserta dari negara-negara ASEAN. Eko menambahkan bahwasannya seluruh peserta berjumlah 80 orang datang dari praktisi pendidikan, agen perjalanan, duta besar, mahasiswa, dan pihak yang tertarik dengan dunia wisata.
      Dari semua kegiatan dan pengalaman ini, Eko menuturkan banyak pengalaman dan ilmu yang bisa dibagikan ketika setibanya di Tanah air. Pengalaman yang menurutnya tidak bisa dilupakan adalah masih bisa menjalankan puasa Ramadhan meskipun mayoritas dari peserta tidak muslim tetapi tidak menyerah dan tetep kekeh untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Disamping itu, dia juga mengatakan banhwasannya Thaialand jauh lebih siap untuk menghadai Masyarakat Ekonomi Asia dibanding dengan negara Indonesia. Namun, terlepas dari kekurangan dan kelebihan Indonesai, Eko berpendapat masih ada waktu untuk berbenah dan memperbaiki diri, lebih baik menyalakan lilin di kegelapan daripada menghujatnya.

    Dari semua yang dialaminya selama di Thailand dia benar-benar mensyukurinya atas semua nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya. Dia tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan terima kasih kepada semua pihak termasuk dari Beastudi Indonesia yang telah membantu banyak sehingga ia bisa berangkat ke Thailand. Dari pihak Universitas dan tentunya dari Allah SWT dan dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Di akhir kisahnya ke Thailand, eko memberikan kata-kata pemantik buat semua pembaca bahwasannya tidak ada masalah yan besar, ada Allah yang lebih besar dan tidak ada alasan keterbatasan karena Allah selalu menghadirkan peluang disetiap kesempitan hambanya jika Ia selalu meminta dengan shalat dan sabar. Dengan ucapan “ KOP KUN KRAP” (terima kasih) dalam bahasa Thailand dia menyimpulkan semua yang dialami dari perjalanan berburu ilmunya ke negeri 1000 pagoda Thailand.

Author : Eko Siswanto
             Penerima Manfaat Beastudi Etos Angkatan 2012, Semarang
Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda,saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia

    ReplyDelete
  2. Terima kasih. Saya sangat apresiasi Tulisan anda di Informasi Seputar Indonesia.

    ReplyDelete