Dhuafa, Challenge Accepted! (M Fajri Izul Muslimin_Etoser 2014)

Dilahirkan didalam keluarga dengan mindset yang sangat menghargai kebersamaan, aku sudah merasa sangat nyaman berada disini. Hangatnya kebersamaan ini sudah kurasakan sejak pertama kali menghirup udara dunia pada tanggal 4 Juli 1994. Sukoharjo yang masih termasuk bagian dari Solo membuatku menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai jawa. Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana mengajarkanku berbagai hal yang sangat berharga. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, aku harus pandai-pandai menerima apa-apa yang telah diajarkan dalam keluarga yang kemudian akan dijadikan contoh oleh adik-adikku kedepannya.

Salah satu pelajaran yang sangat tertanam dalam diri ini adalah mengenai kemandirian. Ya, dengan keterbatasan yang dirasakan keluarga, dengan ini pula aku mengolah keterbatasan itu menjadi peluang, dan kemudian diolah menjadi pola kemandirian hidup. Saat kelas 4 SD, tanpa memperdulikan rasa gengsi yang ada aku membantu umiku jualan nasi kuning di sekolahku. Pelajaran penting lainnya yang diajarkan tersirat dalam kehidupan dikeluarga yakni tentang pengambilan keputusan. Hal ini bisa dilihat saat memutuskan akan melanjutkan ke SMP, aku diberi kebebasan memilih keputusanku sendiri. Saat itu aku sangat menginginkan untuk lanjut di pondok pesantren. Tapi karena mempertimbangkan berbagai hal aku memutuskan untuk melanjutkan di SMPN 1 Sukoharjo yang saat itu masih gratis uang sekolahnya.

Setelah lulus dari SMPN 1 itu aku memilih untuk merealisasikan keinginan masuk pondok pesantren yang sempat tertunda oleh keadaan keluarga dahulu. Dengan nilai UN yang termasuk 10 besar dari 320 siswa, kepala sekolah SMP saat itu menyayangkan keputusanku untuk melanjutkan di ponpes. “Emang yang masuk ponpes itu orang-orang bodoh semua? Islam juga membutuhkan orang-orang berprestasi” pemikiran seperti inilah yang membuatku tetap bertahan pada pendirianku. Setelah masuk di ponpes, banyak pihak pondok yang terkejut karena lulusan SMPN 1 mau masuk pondok pesantren. Mereka masih dipengaruhi oleh mindset masyarakat umum yang mengira bahwa ponpes hanyalah sekolah untuk orang-orang yang gagal masuk SMA favorit. Aku tetap pada pendirianku dan mencoba menelurkan berbagai prestasi di pondok agar mengubah pola pikir mereka.

Salah satu yang kusukai dari pihak ponpes yaitu kebebasan dalam menuangkan kreativitas dalam mading. Karena mewarisi darah kakekku yang pelukis, aku juga berbakat dalam hal menggambar. Kali itu, mading yang kubuat dipenuhi dengan hiasan graffiti. Sangat berbeda dengan saat di SMP yang membatasi kreatifitas dan menilai graffiti adalah karya seni kriminal. Karena hal itulah, aku semangat untuk mengasah kemampuanku dalam hal street art tersebut. Sampai suatu saat aku beranikan izin tidak masuk sekolah dan mengikuti graffiti competition yang diadakan oleh UNS Solo. Kami yang hanya anak pondok tak punya apa-apa pergi dengan jalan kaki menuju UNS untuk ikut lomba graffiti. Berkeringat, kami hampir menempuh 6km dengan berjalan kaki. Tapi seperti yang dikatakan dalam mahfuzat arab ‘man jadda wa jada’, sungguh tak terpikirkan sebelumnya kami menempati peringkat ketiga mengalahkan kelas mahasiswa jurusan seni lainnya yang menjadi lawan kami dalam perlombaan itu. Setelah itu, prestasi-prestasi dibidang seni kemudian menyusul seperti juara 1 Doujinshi SMA 7 Surakarta, juara 2 Design Chara SMA 4 Surakarta, juara 3 Mural Competition ‘Sahabat Al-Aqsha’, Juara 1 Mural Competition DKV UNS Solo, sampai diundang oleh MAN Ngawi untuk mengisi workshop dan praktek langsung Graffiti Street Art .

Tradisi ponpes mengharuskan menjalani pengabdian setahun setelah 3 tahun belajar disana. Merupakan suatu ujian dan kebanggaan aku ditugaskan untuk merintis ponpes baru di daerah Sukoharjo. Dalam perintisan aku dapat belajar berbagai hal antara lain rumitnya birokrasi perintisan suatu institusi, berhadapan dengan masyarakat secara langsung sebagai pembawa idelisme baru sekaligus sebagai anggota masyarakat itu sendiri. Disana juga belajar bagaimana mengelola keuangan lembaga LAZIS kaitannya dengan perintisan ponpes, tak lupa dan sangat pasti aku belajar survival hidup mandiri dalam masyarakat. Setelah berhasil menghandel TPQ di perintisan pondok dan mengadakan pengajian ibu-ibu, masalah internal mulai muncul. Dan karena idealisme yang sangat bersinggungan dengan pembimbing dalam perintisan tersebut, saya memutuskan keluar dari pengabdian.

Selain itu, ada satu faktor lagi yang membuat saya berkeputsan bulat untuk keluar dari perintisan, yakni keluargaku sedang membutuhkan sokongan ekonomi yang lebih. Sebagai anak pertama, aku tidak akan tinggal diam ketika mendengar kabar bahwa surat tanah keluarga telah digadaikan demi menambal kekurangan biaya sekolah 4 orang adikku. Saatnya mengubur keinginanku untuk kuliah.

Saat itu orang tuaku menanyakan kembali keputusanku untuk bekerja, padahal dari dulu aku terkenal ingin segera berkuliah. Setelah bisa meyakinkan orang tua bahwa inilah keputusanku dan aku siap menanggung segala resikonya, mereka akhirnya membolehkanku bekerja walaupun berat melihat anaknya mengubur keinginannya untuk kuliah. Dengan mempunyai link-link kerja di pelayaran, aku mengikuti training kelautan dan akhirnya diterima kerja di kapal crane barge milik Total E&P Indonesie, perusahaan minyak milik Perancis yang ada di Balikpapan. Setiap bulannya, aku bisa mengirim uang kepada orang tuaku, bahkan sampai bisa membelikan motor buat umiku. Suatu prestasi yang sungguh membanggakan. Tidur di kamar ber-AC, makan apa aja ada dan fasilitas mewah lainnya membatku hidup seperti orang kaya saat bekerja di kapal. Disana aku benar-benar mengalaminya sendiri, bahwa kemewahan ataupun kekayaan bukanlah ukuran kebahagiaan seseorang. Saat pertama kali makan makanan mewah aku merasakan enak, tapi ketika hal itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka teori kebosanan mulai bekerja. Menjadi orang kaya itu biasa saja, bahkan kita justru ingin merasakan kesederhanaan hidup dengan makanan ala kadarnya. Disitu juga aku paham apa itu ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’. Kebutuhan itu mutlak wajib dipenuhi, tapi keinginan tak harus dipenuhi. Jika keinginan terpenuhi, maka hal itu terasa nyaman disaat-saat pertama, tapi akan menjadi hal biasa jika terulang-ulang. Hal ini menjadikan ‘keinginan’ manusia tak akan ada habisnya.

Di kapal, aku hanya bertahan kerja 1 tahun saja. Setelah masalah ekonomi keluarga sedikit membaik, keinginan untuk kuliah kembali muncul. Temanku yang berada di UI siap membantu belajar kembali, aku bulatkan tekad untuk ikut SBMPTN dan masuk PTN favorit. Alhamdulillah, Allah melancarkan pilihanku dan menetapkanku sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro, jurusan Sastra Jepang yang sesuai dengan passionku. Setelah masuk Undip, kemudian muncullah kecemasan-kecemasan mengenai biaya kuliah, karena aku sudah tidak meminta biaya lagi ke orang tuaku dan juga sudah tidak bekerja lagi. Selain itu juga sudah kuperhitungkan bahwa tabunganku saat bekerja dulu hanya bisa bertahan sampai akhir semester pertama.

Menjelang akhir semester pertama, saat kegundahanku memuncak, Allah memberikan pertolonganNya lewat beastudi ETOS. Tidak berhenti disitu, ternyata beastudi ETOS menyediakan fasilitas pembinaan dan pengembangan karakter diri dimana hal ini mendatangkan kembali suasana ke’ponpes’an yang telah kurindukan. Nilai-nilai ETOS lewat pembinaan setiap harinya menjadikan potensi setiap individunya meningkat pesat. Suasana ‘kompetisi’ yang ada dalam asrama beastudi ETOS membuat semangat tak mau kalah dalam hal kebaikan selalu terjaga. Fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) bukan suasana yang mustahil lagi dalam asrama. Mulai masuk ETOS, aku kemudian mulai diamanahi menjadi orang-orang berpengaruh dalam organisasi, cotohnya sebagai wakil ketua pengembangan Despro Rowosari, wakil ketua Kazahana Cosplay Club, staf muda Jaringan Media dan Informasi di Rohis Fakultas dan staf muda Riset dalam HMJ Sastra Jepang. Selain bidang akademik, kita juga harus mengasah soft skill kita sebagai mahasiswa the Agent of Change.

Seperti yang dikatakan captain kapalku dulu, kalau aku kuliah passionku dibidang akademik akan berkembang, tidak stagnant seperti kerja di kapal ini. Berbekal dari kata-kata itu, aku berjanji akan lebih membanggakan kedua orang tuaku, daripada hanya sekedar bisa membantu dari segi ekonomi. Hal itu dapat terrealisasi ketika aku mendapat cumlaude dalam semester pertama ini. Senyum bangga telah berhasil kuukir di wajah dua orang yang sangat kusayangi itu.
Kebahagiaan saat melihat senyum bangga kedua orang tua membuatku ketagihan untuk melakukannya. Aku berjanji pada diriku sendiri akan istiqomah membuat mereka tersenyum, dan tersenyum bangga lagi dengan apa yang telah kucapai. Saatnya membuat target untuk bisa ke Jepang negara impianku dengan ilmu, bukan dengan hartaku. Bukan juga sebagai TKI, melainkan sebagai akademisi. Dengan target yang sudah kupasang, hal ini membuatku rajin mencari informasi berbagai oppotunity untuk ikut dalam forum di Jepang, dan juga kompetisi-kompetisi, serta beasiswa ke Jepang. Tak terduga-duga, walaupun melenceng sedikit dari target, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk menghadiri forum di negara agak jauh berada di sebelah selatan Jepang.
Filipina.

Semuanya berawal ketika aku mendapat email yang sungguh mengejutkan. Sebuah email yang menyatakan bahwa aku diterima dan diundang dalam acara ASEAN Youth Seminar-Forum di Polytechnic University of Philippine pada 13 Maret 2015. Ketika itu, aku senang tapi juga bingung. Keseluruhan acaranya free payment, tapi untuk tiket terbang dari Indonesia ke Filipina tidak disediakan oleh panitia. Awalnya aku ragu bisa mengambil pengalaman internasional yang berhasil kudapatkan. Tapi keraguan itu hilang karena rasa iri dengan prestasi Etoser lainnya yang bisa melakukan pengembaraan intelektual ke berbagai pelosok dunia.

Waktu yang tersisa hanya satu minggu menjelang acaranya dimulai.
Tak ada waktu untuk bermain-main lagi, tak ada waktu istirahat lagi. Aku merasa bahwa untuk menjadi berprestasi, maka harus berusaha lebih dari mayoritas usaha orang lain. Aku dan delegasi dari Undip yang lainnya menyelesaikan proposal pengajuan dana dalam dua hari satu malam, dan besoknya langsung diantarkan ke berbagai instansi.
Satu hal yang membuat kami down adalah ketika meminta persetujuan pada Pembantu Rektor 3, Undip. Seolah-olah dipersulit, kami harus merevisi proposal karena kesalahan sistematika sampai 7 kali. Celaan-celaan yang kami terima dari sekretaris PR 3 tersebut membuat suatu dinding penghalang yang membatasi impian kami. Tapi, dengan kerja keras dan tawakkal ilAllah, akhirnya masalah proposal bisa diatasi dan dapat diedarkan.

Dikarenakan acara hanya berberapa hari lagi serta dana dari proposal tidak mungkin cair dalam jangka waktu tersebut, kami terpaksa meminjam uang dari teman dan kerabat. Alhamdulillah, mereka sangat mengapresisasi prestasi kami dan memberikan pinjaman modal untuk terbang ke Filipiina.

Tanggal 13 Maret.
Aku benar-benar terbang ke Filipina. Tak dapat disangka-sangka, seorang dari keluarga yang sangat sederhana bahkan masuk dalam kategori dhuafa bisa menginjakkan kakinya di luar negeri sebagai akademisi. Statement dhuafa tidak kujadikan sebagai masalah, melainkan tantangan. Kutanamkan dalam pikiranku bahwa Allah menetapkanku sebagai dhuafa karena percaya bahwa aku bisa melalui ujian ini. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, Allah tak akan menguji hambanya diluar kemampuannya. Hal ini berarti Allah benar-benar percaya aku mampu melewati ujian dhuafa ini. Tidak sembarangan Allah memberikan ujian dhuafa ini ke berbagai orang, hanya orang-orang khususlah yang dipercaya dapat melaluinya. Oleh karenanya, ujian ini membuatku bersemangat ingin menunjukkan bahwa aku dapat dipercaya Allah dan bisa lulus melewatinya.

Pengalamanku ke Filipina hanyalah awal dari sebuah pengembaraan intelektual. Next target is Tokyo Sky Tree, Jepang.
”Dreams as if You will live forever, and live as if You’ll die today”.


Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment