Bersahabat dengan Keterbatasan

   Semua berawal dari Kelulusan tempo hari pemuda ini, setelah menghabiskan masa-masa terakhir di SMA yang penuh canda – tawa dan bersenang – senang. Pemuda ini akrab dipanggil dengan sebutan ANU oleh sahabat-sahabat SMA nya. Dia tahu, ketika teman-temannya asyik dengan dunia nya, namun ANU sudah akrab dengan dunia malam membantu Ayah mencari nafkah esok hari. Ayahnya yang bekerja sebagai pedagang sayur di Pasar, dan Ibunya yang mulai sakit-sakitan jikalau terkena suhu dingin malam. ANU sudah harus ikut Kulak sayuran ke Kabupaten sebelah, yaitu Banjarnegara.

  Berbekal motor butut yang menggunakan lampu senter ketika malam hari, ANU yang harus membantu Ayahnya membawa sayur kulakkan ketika Jumlahnya melebihi muatan untuk satu motor. Ia yang harus mengawasi keadaan ayahnya di jalan, ia salah satu yang khawatir dengan keadaan Ayahnya ketika pulang larut malam, ditambah lagi ketika hujan. Jatuh dari motor bagi ANU merupakan hal yang biasa, baik jatuh karena beban yang terlalu berat, ataupun jatuh karena motor yang mogok di tanjakkan. ANU yang masih duduk di bangku SMA, yang harus pintar membagi waktu antara siang yang penuh dengan rutinitas belajar dan organisasi, dan malam yang penuh dengan rutinitas kulak sayuran untuk esok hari membantu Ayahnya.

  ANU tumbuh dari lima anak laki-laki dan dua anak perempuan itu, semenjak kakak laki-laki yang terakhir pergi merantau ke Kota, ia lah yang sekarang dituntut untuk tumbuh lebih dewasa, harus ikut menjaga adik perempuan dan Ibunya. Dalam dirinya, Ia dituntut untuk berprestasi dan dapat membanggakan kedua orang tuanya. Semua berawal dari kelulusan SMA itu, ia berhasil menjadi siswa terbaik pertama di IPS. Namun sebelum itu, ia tak lupa berdoa dan usaha keras untujk meraihnya, dengan tekad cita-cita yang ada dalam angannya, serta dengan restu dari kedua orang tua.

    Berawal dari Bulan Februari semester ke-enam, dimana ia salah satu dari tiga siswa yang bersemangat juang guna mendaftar beasiswa-beasiswa untuk support kehidupannya nanti di Perguruan Tinggi. Orang tuanya sangat mendukung dan memberikan restu padanya. Setelah dua beasiswa ia daftarkan diri, dan salah satu dari beasiswa yang mengharuskan mengikuti rangkaian seleksi, maka tantangan selanjutnya ialah bagaimana transportasi untuk ke sana. Melihat ke belakang, kedua orang tuanya tidak mungkin  ia mintai dalam hal keuangan kecual hanya restu yang bisa orang tua berikan padanya, namun Alhamdulillah Allah berkehendak lain, ternyata ada beasiswa semasa SMA yang turun dari salah satu Bank ternama di Jawa Tengah, dan Alhamdulillah itu menjadi jalan keluar untuk masalahnya yang pertama. Masalah selanjutnya ialah bagaiamana ia akan memakai transportasi menuju kota seleksi di Yogyakarta.

     Seiring berjalannya hari, alhamdulillah kakak terakhir yang merantau memperoleh rezeki untuk mengangsur kendaraan bermotor. Masalah selanjutnya ANU belum membuat SIM sebagai syarat berkendara. Namun untuk masalah ini, ANU menghadapinya dengan caranya sendiri, dengan pengalaman berkendara malamnya sejak SMA, maka ANU tidak segan untuk berkendara malam dari Purbalingga ke Yogyakarta. Masalah selanjutnya, setelah sampai di Yogyakarta ANU tidak punya saudara yang bisa ditinggali bermalam. Berbekal sahabat yang selalu setia menemaninya, maka Anu dan kawannya memutuskan untuk tidur masjid terdekat, ketika ia sampai di Yogyakarta. Hal itu ia lakukan setiap kali ia melalui tes seleksi dari salah satu beasiswa tadi. Namun Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama, Allah SWT berkehendak lain, memberikan tempat istirahat untuk ANU dan kawannya di Kost salah satu temannya di dekat kampus  UMY.

     Seleksi demi seleksi ia terus jalani, sampai seleksi yang terakhir yaitu Home Visit. Namun sebelum itu, masalah selanjutnya ternyata ANU tidak lolos seleksi Perguruan Tinggi SNMPTN, yang membuat ANU dan kawannya pernah ingin berputus asa, namun situasi tersebut tidak berjalan lama, dimana ia mulai bangkit kembali dengan kawannya mencari materi-materi yang berkaitan dengan SBMPTN dan belajar bareng malam hari untuk mempelajarinya. Alhamdulillah saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, untuk berjuang menghajar soal-soal SBMPTN di depannya. Berawal dari situ juga, ketika pengumuman tiba, dan namanya tercantum sebagai salah satu bagian dari Universitas Diponegoro, di fakultas Ekonomika dan Bisnis jurusan S-1 Manajemen. Berawal dari itu juga, ia dinyatakan diterima sebagai salah satu penerima manfaat Beastudi Etos yang Alhamdulillah Ia diterima sebagai salah satu penerima Bidikmisi Dikti.

     Namun terlepas dari itu semua, flashback ke belakang. Semua usaha dan doanya di dengar oleh Allah SWT, dengan usaha kerasnya semasa SMA, dan beban yang harus dipanggulnya melihat kedua orang tua yang semakin menua. Sekarang ANU yang berhasil mengalahkan ribuan lebih anak-anak lainnya yang ingin masuk di jurusan manajemen undip, dan tantangan terbesar selanjutnya yang ANU harus taklukan adalah bagaimana ia dapat kuliah dengan lancer dan IP tinggi, namun tidak melupakan kewajiban sebagai seorang laki-laki dewasa yang harus mulai membantu biaya kehidupsn kedua orang tuanya. “ Rasa syukur saya tetap ucapkan kepada Allah SWT , yang merangkai keehidupan ini menjadi keindahan yang tidak pernah saya lupakan, tak lupa terimakasih kepada kedua orang tua walaupun kami terbatas dalam materi , namun restumu tak terbatas untuk kami”.
Kalimat yang selalu ANU pegang dalam benaknya, “Langkah yang Ku jejaki  kemarin, saat ini, maupun esok hari harus selalu ada restu dari Kedua Orang tua”.

Share on Google Plus

About Etos Semarang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment